Friday, June 26, 2009

Air Tawar di Laut Asin

”Dan Dia yang menjadikan dua laut, yang satu asin dan pahit rasanya, dan yang lain tawar manis rasanya. Dan dijadikan-Nya dinding pemisah antara keduanya.” (Q.S. Al Furqan 25: 53)

Bila kita naik mobil dari Bandara King Abdul Aziz menuju pusat kota Jeddah, Saudi Arabia. Kira-kira di setengah perjalanan di sebelah kanan tepi Laut Merah akan tampak pipa-pipa menjulang tinggi mengeluarkan asap. Itu merupakan pabrik instalasi penyullingan air laut untuk memasok kebutuhan air tawar sejumlah 38.000 m3 per hari bagi penduduk kota Jeddah.


Dalam Arab News, 11 Juli 2004, ada ulasan tentang instalasi penyulingan air laut tadi. Para insinyur khawatir kalau terjadi sabotase atau serangan teroris terhadap instalasi ini berarti bencana kehausan bagi kota Jeddah. Seorang wanita ahli teknik bernama Dr. Amal al-Iraqi di Sauri Arabia, yang menjabat direktur perusahaan Nafia Water, mengusulkan alternatif yang sesuai dengan isyarat dalam Al Quran Surat Al Furqan (25) ayat 53, yakni mengambilair dari sumber mata air tawar di dasar laut.
Dalam penelitian bersama para ahli Perancis dari Nymphaea Water, di sepanjang dasar Laut Merah yang asin terdapat beribu-ribu titik sumber mata air tawar. Sumber-sumber air tawar ini mengeluarkan air terus-menerus dan tidak bercampur dengan air laut di sekitarnya yang asin, seolah-olah ada dinding selubung yang membatasinya. Tepat seperti yang disebutkan dalam Al Quran. Nabi Muhammad saw. Tidak pernah menyelam di Laut Merah. Bagaimana beliau bisa tahu? Hal tak terbantahkan ini merupakan bukti mukjizat Al Quran. Masikah manusia mengingkari???

”Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang masih kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman 55: 13)

Pada zaman purbakala, mata air tawar ini berada di daratan. Karena gerakan geologis, daratan tadi terbenam, atau sebaliknya permukaan air laut yang naik, kini daratan tadi berada di dasar laut. Tetapi tenggelamnya tidak menghentikan pancaran mata air itu. Mereka tetap mengalirkan air tawar dengan tingkat seasinan (salinitas) kurang dari 1,4 gram per liter dan temperaturnya 17oC. Debitnya dimusim panas 80 liter per detik dan di musim lain 120-150 liter per detik. Dengan teknologi khusus, air tadi tinggal dialirkan melalui pipa untuk memenuhi kebutuhan kota-kota di sepanjang pantai Laut Merah, atau bisa juga dikemas dalam botol. Teknologinya sederhana, tidak merusak ekosistem, dan biayanya seperempat biaya instalasi penyulingan air laut model sekarang. Juga lebih aman karena sangat sulit dijadikan sasaran bom. Pierre Becker dan Thierry Carlin, penemu sistem teknologi tadi, pertama kali melakukan uji coba di coba di mata air dasar laut di perbatasan Perancis-Italia. Menurut mereka, sumber-sumber mata air tawar terdapat di seluruh dasar laut di dunia.


Menurut Edgren (1993), 50%-70% penduduk dunia ,atau 5,3 miliar manusia bertempat tinggal di kawasan pesisir. Sedangkan menurut Cicin Sain dan Knecht (1998), dua per tiga kota besat di dunia berada di pesisir. Dengan pertambahan penduduk dan industri yang pesat, sumber air tawar daratan akan segera terkuras habis. Tetapi Al Quran mengisyaratkan bahwa manusia bisa menggali sumber mata air dasar laut untuk mengatasinya.

1 comment:

  1. okey bagus laaaa......
    salam damai dr saya


    ttd:
    http://kasihimam.blogspot.com

    ReplyDelete

Thank You For Your Comment...